Wakaf Uang, Bagaimanakah Hukumnya? - Wakaf Sukses

Wakaf Uang, Bagaimanakah Hukumnya?

Wakaf menurut bahasa yaitu berasal dari bahasa arab waqafa, yaqifu, waqfa yang artinya yaitu menahan. secara terminologis wakaf adalah menahan hak milik atas harta benda untuk dikelola dan didistribusikan hasilnya. 

Pada umumnya kita tahu bahwa wakaf dapat kita lakukan berupa dengan mewakafkan tanah untuk dijadikan jalan atau dijadikan kuburan ataupun bangunan lainnya. Namun, sebenarnya wakaf tidak hanya berupa tanah dan bangunan. Kita juga dapat berwakaf dengan uang. 

Lalu bagaimana hukumnya terkait wakaf uang? Terkait wakaf uang sudah banyak regulasinya, dalam Al Qur’an sendiri hukum untuk berwakaf tidak secara tegas namun ada beberapa ayat yang dapat dijadikan sandaran untuk berwakaf, salah satunya yaitu Qs. Ali Imran :92 yang artinya “ Kamu sekali kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna) sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan, maka sesungguhnya Allah mengetahuinya “  (QS. Ali Imran : 92)

Para ulama sepakat tentang diperbolehkannya wakaf uang. Abu As-Su’ud Muhammad menjelaskan bahwa Imam Bukhari mengungkapkan bahwa Imam Az-Zuhri berpendapat, wakaf dinar dan dirham adalah boleh. Yaitu dengan cara menjadikan dinar dan dirham tersebut sebagai modal usaha, kemudian menyalurkan keuntungannya untuk kesejahteraan masyarakat. (HR. Bukhari).

Sedangkan di Indonesia, Majelis Ulama Indonesia telah mengeluarkan fatwa tentang wakaf uang pada tanggal 11 Mei 2002, yang berisi: 

  1. Wakaf uang (cash wakaf/wakaf alnuqud) adalah wakaf yang dilakukan seseorang, kelompok orang, lembaga atau badan hukum dalam bentuk uang. 
  2. Termasuk ke dalam pengertian uang adalah surat-surat berharga.
  3. Wakaf uang hukumnya jawaz (boleh).
  4. Wakaf uang hanya boleh disalurkan dan digunakan untuk hal-hal yang dibolehkan secara syar’i 
  5. Nilai pokok wakaf uang harus dijamin ke lestariannya, tidak boleh dijual, dihibahkan, din diwariskan.

Dalam Undang-Undang Nomor 41 tahun 2004 pasal 28 dan pasal 29 disebutkan bahwa 

Pasal 28 ;

 Wakif dapat mewakafkan benda bergerak berupa uang melalui Lembaga Keuangan Syariah yang ditunjuk oleh Menteri Agama.

 Pasal 29 

 (1) Wakaf benda bergerak berupa uang dilaksanakan oleh Wakif dengan pernyataan kehendak Wakif yang dilakukan secara tertulis;

 (2) Wakaf benda bergerak berupa uang dalam bentuk sertifikasi wakaf uang diterbitkan

 (3) Sertifikat wakaf uang diterbitkan dan disampaikan oleh Lembaga Keuangan Syariah kepada wakif dan nazhir sebagai bukti penyerahan harta benda wakaf.

Baca juga : Wakaf, Tidak hanya sekedar tanah dan bangunan

Selanjutnya, wakaf uang juga sudah diterapkan sejak zaman peradaban islam, wakaf uang telah dikenal sejak masa dinasti Ayyubiyah di Mesir (sekitar tahun 1178 M/5721). Di era ini, perkembangan wakaf sangat menggembirakan, tidak saja terbatas pada benda tidak bergerak, tapi juga benda bergerak semacam wakaf uang (al nuqud).

Dalam rangka menyejahterakan ulama dan kepentingan misi mazhab Sunni, Salahuddin Al Ayyuby menetapkan kebijakan bahwa orang Kristen yang datang dari Iskandar untuk berdagang wajib membayar bea cukai. Tidak ada penjelasan, orang Kristen yang datang dari Iskandar itu membayar bea cukai dalam bentuk barang atau uang? Namun lazimnya bea cukai dibayar dengan menggunakan uang.

Uang hasil pembayaran bea cukai itu dikumpulkan dan diwakafkan kepada para fuqaha’ (juris Islam) dan para keturunannya, Namun, menurut literatur yang lain, praktik wakaf uang telah ada sejak awal abad kedua hijriyah. Pendapat ini menukil penjelasan dari sebuah riwayat Imam Bukhari yang menyatakan bahwa Az-Zuhri (w. 124 H) memberikan fatwanya untuk berwakaf dengan dinar dan dirham agar dapat dimanfaatkan sebagai sarana kesejahteraan umum.

Nah, kita sudah tau bukan sejarah dan juga hukum dari wakaf uang, yuk mulai wakafkan hartamu dengan cara klik disini dan pilih program wakaf terbaikmu!

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *